Kamis, 07 Juli 2011

Rana Desa Kota Batu (Sumbergondo) part 1

Mungkin bayak orang berkeinginan tinggal di sebuah Desa yang tenang, Asri dan Indah.


Seperti saya yang sudah selama 13 tahun tinggal di sebuah desa di bawah lereng Gunung Arjuno yang dilewati jalur sungai Brantas. Indah dan Nyaman, yah itulah SUMBERGONDO, Desa penuh pesona seribu Apel di Kota Batu. Saya merasa desa ini tidak terlalu jauh dari pusat Kota yang dapat diakses selama kurang lebih 10 Menit dengan angkutan umum maupun sepeda motor.


Desa Sumbergondo merupakan desa penghasil apel dan sayur terbesar kedua di Kota Batu. Desa ini memiliki wilayah hutan lindung yang sangat luas. dengan komposisi 3 dusun dan yang saya tempati ini dusun Utama atau lebih dikenal dengan Dusun Segundu. Di dusun Segundu ini merupakan pusat pemerintahan dan pusat perekonomian rakyat.


Budaya dan Kepercayaan


Sebuah desa layaknya harus memiliki sebuah kebudayaan dan sejarah yang kental. Untunglah saya terlahir di keluarga seorang sesepuh desa dan pengembang desa atau Lurah desa sewaktu dulu. Yah, Eyang Buyut Inggi atau Eyang Buyut Wiryosastro yang pernah menjabat sebagai Lurah di Era Tahun 1931 sampai 1961, Kepala desa pertama yang dipercaya masyarakat sumbergondo sebagai kepala desa yang menjabat di Era Kemerdekaan pertama dan dengan periode terlama dalam sejarah Desa.
Desa Sumbergondo memiliki Budaya yang beragam. mungkin sih budaya itu berasal dari mataram kuno yang diperintah Mpu Sindok yang pernah singgah di Desa Sumbergondo membuat arca dewi durgandini yang ditempatkan di Punden banteng/cemoro dhoyong (karena ada cemara berusia ribuan tahun yang doyong ke utara).bahwa dulu di Punden Banteng terdapat Prasasti ( saat ini sudah hilang di curi orang) bertuliskan di bawah pohon Kalpataru ada Kepala Gajah    bertuliskan   SONYO WONO GIRI   jika kita artikan secara candra sengkala adalah  sonyo = suwung  ( kosong  atau 0 ) wono = 6 dan giri = 7 sehingga dibalik menjadi Tahun  760 Jawa, sedang menurut bahasa berarti Desa Sumbergondo Dulunya merupakan daerah hutan belantara di  pegunungan yang suwung atau kosong tak berpenghuni. Nah mengapa punden itu dinamakan punden banteng ?????
         "karena dulu ada suatu prosesi sakral di setiap wilayah mataram kuno yang harus
          melakukan tari bantengan sebagai tari budaya yang diakui pemerintah pada 
          waktu dulu"
Antara percaya dan nggak percaya katanya pohon cemoro dhoyong itu dijaga oleh mahkluk gaib berbadan manusia dan berkepala banteng. 


Sekian dulu ceritanya nanti saya tulis lagi bagian 2 nya. Wassalam. Salam Blogger 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar