Kamis, 07 Juli 2011

Warga Batu Klaim Miliki Biola Antonio Stradivari


Tidak terduga, Mudzoffar mendapatkan biola bernilai miliaran rupiah buatan Antonio Stradivari tahun 1725 di Pasar Rombeng Malang tahun 1957 silam.

Lagu “Setangkai Bunga Anggrek” melantun syahdu lewat gesekan biola Mudzoffar. Pria berusia 75 tahun warga Jl Batok Gg I No 5 Kelurahan Sisir Kota Batu ini cukup mahir memainkan alat musik gesek tersebut. Sesekali Mudzoffar harus menghentikan permainannya untuk membetulkan sekrup di ujung biola yang nyaris lepas. Maklum, biola itu disebutkannya sudah berusia ratusan tahun.
“Saya menduga biola ini adalah salah satu biola tertua di dunia, buatan Antonio Stradivari yang diproduksi tahun 1725,” kata Mudzoffar.
Nama pembuat dan tahun produksi itu sendiri terdapat di dalam bodi biola. Hal inilah yang membuat Mudzoffar yakin bila biola miliknya ini adalah salah satu yang tertua di Indonesia dan bahkan di dunia.
Penelusuran Surabaya Post terhadap sejumlah artikel tentang biola Antonio Stradivari menyebutkan, biola buatan Antonio Stradivari adalah salah satu biola terbaik di dunia. Ciri-cirinya, terdapat pada label Antonius Stradivarius Cremonensis Faciebat Anno (kemudian diikuti tahun pembuatan).
Instrument karya Stradivari yang terbaik diproduksi antara tahun 1698-1725 (puncaknya pada tahun 1715). Setelah 1730, beberapa instrument ditanda tangani Stradivari, dan dibuat oleh kedua anak Stradivari yang bernama Omobomo dan Francesco.
Stradivari selama hidupnya hanya membuat 1.100 alat musik, dan sebagian besar adalah biola. Di antara jumlah tersebut hanya sekitar 650 alat musik (512 diantaranya adalah biola) yang masih bertahan di atas usia 250 tahun. Lainnya ada yang hancur dalam kebakaran atau kecelakaan, hilang di laut atau banjir, dan beberapa dihancurkan oleh bom api Dresden dalam Perang Dunia ke-2.
Mudzoffar sendiri mengaku mendapatkan biola ini di Pasar Rombeng Malang. Dia membelinya dari seorang lelaki keturunan bernama Om Sui pada tahun 1957. Waktu itu ia mendapatkan biola tersebut tanpa senar.
Kemudian, dibelikannya senar biola berharga murahan untuk dipergunakan bermain musik di Orkes Melayu Sinar Harapan yang didirikannya pada 1954. Hingga saat ini, kualitas bunyi yang dihasilkan cukup jernih.
“Saat itu saya masih belum tahu kalau biola ini buatan Stradivari. Hingga suatu ketika saya membaca di sebuah media cetak tentang berita seorang pemain biola yang memainkan biola berharga miliaran rupiah, usia biolanya dibuat sekitar 1715,” urainya.
Saat itulah terbersit di hati Mudzoffar untuk mengetahui usia biola miliknya. Dan, diketemukan tulisan di balik body biola yang menyatakan dibuat tahun 1725.
Biola Stradivari adalah salah satu biola terbaik di dunia yang pernah diciptakan dan mempunyai harga paling tinggi. Hingga saat ini masih dimainkan oleh pemain biola professional. Setiap biola buatan Stradivari yang masih ada, mempunyai julukannya masing-masing
Pada 21 Juni 2011, 1721 Stradivari biola yang dikenal sebagai “Lady Blunt” dibeli oleh seorang penawar anonim seharga £ 9.808.000 (USD 15.932.115). Uang hasil lelang itu digunakan membantu para korban gempa bumi Jepang.
Sementara pada 14 Oktober 2010, 1.697 biola Stradivari yang dikenal sebagai “Molitor” dijual online oleh Tarisio Lelang seharga USD 3.600.000 saat konser pemain biola terkenal Anne Akiko Meyers . Sebelumnya, pada 16 Mei 2006, Balali Lelang Christie melelang 1707 Stradivari Hammer seharga USD 3.544.000.
Meski biola milik Mudzoffar tergolong langka, belum pernah ada yang menawar untuk membelinya. “Kalau ada yang beli ya tidak apa-apa, asal cocok harganya,” pungkasnya.*

Kota Batu Jadi Hollywood Indonesia ?

-Wali Kota Batu, Eddy Rumpoko berharap Kota Batu di Jawa Timur menjadi Hollywood Indonesia. 
Harapan tersebut disampaikan menjelang pendeklarasian Kota Batu sebagai Kota Film Nasional. "Sampai saat ini belum ada kota perfilaman di Indonesia sebagaimana Hollywood di Amerika dan Bollywood di India. Kami sangat merasa senang dan bangga jika Kota Batu menjadi Bollywood atau Hollywood-nya Indonesia,’’ kata Eddy Rumpoko. 
Dia meyatakan bahwa potensi Kota 'Apel' Batu sangat kondusif untuk menjadi kota perfilman. Selama ini kota yang dipimpinnya itu sudah memproklamasikan diri sebagai kota wisata. Menurut dia, kota wisata ini sangat pas bila juga menjadi kota perfilman. Selain menyajikan panorama alam yang indah, kota ini juga dekat dengan kawasan hutan dan laut.


 "Makanya, kami sangat berharap artis perfilman Indonesia mendukung Batu menjadi kota perfilman Indonesia,’’ kata dia menjelang pendeklarasian Kota Film Nasional di Kota Batu. 


Hadir dalam pendeklarasian di Kota Batu tersebut para pengurus Perasatuan Artis Film Indonesia (Parfi) seperti Rizal Djibran, Pong Hardiatmo, Ray Sahetapi, dan beberapa artis tenar lainnya

Rana Desa Kota Batu (Sumbergondo) part 1

Mungkin bayak orang berkeinginan tinggal di sebuah Desa yang tenang, Asri dan Indah.


Seperti saya yang sudah selama 13 tahun tinggal di sebuah desa di bawah lereng Gunung Arjuno yang dilewati jalur sungai Brantas. Indah dan Nyaman, yah itulah SUMBERGONDO, Desa penuh pesona seribu Apel di Kota Batu. Saya merasa desa ini tidak terlalu jauh dari pusat Kota yang dapat diakses selama kurang lebih 10 Menit dengan angkutan umum maupun sepeda motor.


Desa Sumbergondo merupakan desa penghasil apel dan sayur terbesar kedua di Kota Batu. Desa ini memiliki wilayah hutan lindung yang sangat luas. dengan komposisi 3 dusun dan yang saya tempati ini dusun Utama atau lebih dikenal dengan Dusun Segundu. Di dusun Segundu ini merupakan pusat pemerintahan dan pusat perekonomian rakyat.


Budaya dan Kepercayaan


Sebuah desa layaknya harus memiliki sebuah kebudayaan dan sejarah yang kental. Untunglah saya terlahir di keluarga seorang sesepuh desa dan pengembang desa atau Lurah desa sewaktu dulu. Yah, Eyang Buyut Inggi atau Eyang Buyut Wiryosastro yang pernah menjabat sebagai Lurah di Era Tahun 1931 sampai 1961, Kepala desa pertama yang dipercaya masyarakat sumbergondo sebagai kepala desa yang menjabat di Era Kemerdekaan pertama dan dengan periode terlama dalam sejarah Desa.
Desa Sumbergondo memiliki Budaya yang beragam. mungkin sih budaya itu berasal dari mataram kuno yang diperintah Mpu Sindok yang pernah singgah di Desa Sumbergondo membuat arca dewi durgandini yang ditempatkan di Punden banteng/cemoro dhoyong (karena ada cemara berusia ribuan tahun yang doyong ke utara).bahwa dulu di Punden Banteng terdapat Prasasti ( saat ini sudah hilang di curi orang) bertuliskan di bawah pohon Kalpataru ada Kepala Gajah    bertuliskan   SONYO WONO GIRI   jika kita artikan secara candra sengkala adalah  sonyo = suwung  ( kosong  atau 0 ) wono = 6 dan giri = 7 sehingga dibalik menjadi Tahun  760 Jawa, sedang menurut bahasa berarti Desa Sumbergondo Dulunya merupakan daerah hutan belantara di  pegunungan yang suwung atau kosong tak berpenghuni. Nah mengapa punden itu dinamakan punden banteng ?????
         "karena dulu ada suatu prosesi sakral di setiap wilayah mataram kuno yang harus
          melakukan tari bantengan sebagai tari budaya yang diakui pemerintah pada 
          waktu dulu"
Antara percaya dan nggak percaya katanya pohon cemoro dhoyong itu dijaga oleh mahkluk gaib berbadan manusia dan berkepala banteng. 


Sekian dulu ceritanya nanti saya tulis lagi bagian 2 nya. Wassalam. Salam Blogger